Rabu, 18 Maret 2009

Bapak Yang Sesungguhnya

Masuklah seorang ayah kedalam rumah dipermualaan malam sebagaimana biasanya. Tiba-tiba dia mendengar suara tangisan yang bersumber dari kamar putranya. Sang ayahpun masuk kedalam kamar putranya dengan keberanian dan penuh tanya tentang sebab tangisan putranya. Sang anak menjawab dengan tersengguk: "Tetangga kita, si fulan, kakek Ahmad temanku telah meninggal."
Sang ayah berkata dengan penuh heran: "Apa?Si fulan telah mati? biar saja situa bangka yang telah hidup lama itu mati, di bukan urusanmu. engkau menangisinya? celaka kamu, anak dungu! Engkau telah mengagetkanku, kukira telah menjadi bencana dirumah, ternyata semua tangisan ini hanyalah karena orang tua itu. bisa jadi seandainya aku mati engkau tidak akan menangisi aku seperti ini."
Sang anakpun melihat kepada ayahnya dengan pandangan penuh air mata dan hati yang berkeping-keping seraya berkata: "Ya, aku tidak akan menagisi ayah sepertia aku menangisinya! dia adalah orang yang memegang kedua tangan ku menuju shalat jum'at dan shalat berjama'ah pada shlalat subuh, dia adalah orang yang memberikan peringatan kepadaku dari teman-teman yang buruk, serta menunjukanku kepada teman-teman yang shalih dan bertakwa. dialah yang telah memberikan semangat kepadaku untuk menghafal Al-Qur'an, serta mengulang-ngulang zikir."
"Sementara ayah, apa yang telah ayah perbuat terhadap diriku? ayah hanyalah ayah dalam penamaan, ayah adalah ayah bagi jasadku. Adapun dia, maka dia adalah ayah bagi rohku. hari ini aku akan menangisinya, dan aku akan terus menangisinya, karena dialah ayahku yang sejati."
Lalu sang anak pun terus terisak dan menangis.
Saat itulah sang ayah tersadar dari kelalaiannya. Dia terkesima dengan ucapan putranya, merindinglah kulit-kulitnya, dan hampir-hampir air matanya berjatuhan dipelupuk matanya. serta merta dia peluk dan timang putranya, dan sejak hari itu dia tidak pernah meninggalkan satu shalatpun didalam masjid.
Diambil dari:Qiblati edisi 12 tahun III.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar