Dia adalah salah satu puncak tinggi yang menjulang dari puncak-puncak para sahabat Rasulullah SAW yang tinggi.Dia adalah Bilal Bin Rabah ra. Tidaklah kita mengumadangkan azdan hingga hari ini kecuali kita mengingat Bilal Bin Rabah ra.
Saat Nabi SAW diutus usianya adalah 30 thn. Dia 10 thn lebih muda dari Rasulullah SAW.
Dia telah mendapatkan siksaan dahsyat, yang tidak ada seorang pun diantara kaum muslimin pernah mendapatkannya. Hal itu terjadi karena dia adalah seorang budak hitam miskin yang tidak ada seorang pun sudi melindunginya, atau juga tidak ada satu keluarga pun yang membelanya.
Mereka oarng-orang Quraisy, disaat panas semakin membara, matahari telah berada ditengah-tengah langit, serta kerikil-kerikil mekkah telah panas luar biasa, mereka melepaskan pakaian Bilal dan memberinya pakaian besi kemudian melemparkannya di terik sinar matahari yang membakar.
Mereka bakar punggungnya dengan cemeti seraya berkata: “Kufurlah kamu dengan Tuhannya Muhammad”. Maka Bilal pun menjawab “ahad-ahad (Allah Maha Esa-Allah Maha Esa).” Orang yang mengurusi penyiksaannya adalah Ummayah bin Kholaf. Dia meletakkan batu besar diatas dada Bilal, namun Bilal hanya mengatakan, “ahad ahad”. Orang-orang kafir tersebut berkata “cacilah Muhammad kami akan tinggalkan kamu,” Bilal menjawab, “Sesungguhnya lisanku tidak mampu melakkukannya.” Maka merekapun semakin menambah siskaan padanya. Bilal tetap berkata, “Ahad Ahad” .
Sesungguhnya orang yang memperhatikan kisah ini, pastilah dia akan bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa yang terjadi seandainya aku berada pada tempatnya? Bukankah kita merasakan nikmat Allah SWT telah banyak dilimpahkan atas kita, dan bahwa kita telah dilahirkan sebagai orang-orang muslim tanpa ada penyiksaan.?” Ya Allah, segala puji adalah milik-Mu, atas nikmat Islam ini.
Tatkala Abu Bakkar as-Shiddiq melihat kondisinya yang demikian, diapun membelianya kemudian memerdekankanya.
Nabi SAW berhijrah dan Bilal ra pun berhijrah ke Madinah. Masjid madinah dibangun, dan azdan pun disyariatkan. Nabi SAW pun memilih Bilal ra untuk adzan, karena suaranya yang tinggi. Jadilah Bilal ra sebagai muadzdzin bagi Rasulullah SAW selama 10 thn penuh.
Pada hari penaklukan kota Makkah, Nabi SAW berkeinginan untuk lebih banyak memuliakan Bilal ra tatkala ka’bah dibuka agar dimasuki oleh Rasulullah SAW sahabat besar seperti Abu Bakar dan Ummar ra tidak menyertai beliau SAW memasukinya, namun yang menyertai Beliau SAW adalah Bilal ra lihatlah kepada seberkas kenabian yang ini semuanya adalah pemenuhan hak dan pemulian, serta pemberian pelajarn kepada manusia bagaimana mereka bermuamalah dengan orang yang lebih lemah, faqir dan yang lebih berhak dikasihani kondisinya dari mereka.
Umar ra faham dengan apa yang diperbuat oleh Nabi SAW dia berkata “Abu Bakkar adalah sayyid (penghulu) kami dan dia telah membebaskan sayyid kami”. Yang dimaksud ialah Bilal ra.
Pada suatu hari, Nabi SAW bersabda kepada Bilal “Wahai Bilal, tunjukan kepadaku amalmu, sesungguhnya aku telah mendengar suara langkah kedua sandalmu disorga.” Maka Bilal ra menjawab “Wahai Rasulullah SAW tidaklah aku berhadats, dan batal wudhu’ku kecuali kemudian akupun berwudhu’, dan tidaklah aku berwudhu’ kecuali kemudian aku shalat dua rakaat.”
Maka wudhu’ adalah senjata seorang mukmin yang tidak akan dia tinggalkan selamanya. Bersamaan dengan itu semua, Bilal bin Rabah ra tidak pernah mendengar kalimat-kalimat pujian dihapakan kepadanya kecuali dia tundukan kepalanya, kemudian dia tundukan pula pandangan matanya seraya berkata sambil air matanya bercucuran dari kedua pelupuk matanya. “Sesungguhnya aku adalah seorang Habsyi, dulu aku hanyalah seorang budak.”
Pada suatu hari dia pergi untuk melamar dua orang istri bagi dirinya dan saudaranya, dia berkata kepada ayah dua wanita tersebut: “ Aku adalah Bilal, dua orang budak dari Habasyah. Dulu kami tersesat ke mudian Allah membebaskan kami berdua. Jika kalian menikahkan kami, maka Alhamdulillah jika klaian menolak kami, maka Allah adalah Dzat yang maha Besar “.
Sepeninggal Nabi SAW. Bilal pergi kepada Abu Bakkar ra seraya berkata kepadanya: “Wahai Khalifah Rasulullah SAW sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal seorang mukmin yang paling utama adalah jihad diajalan Allah SWT…” Abu Bakkar berkata, “Apa yang kamu inginkan Wahai Bilal?” Dia menjawab, “Aku ingin Ribath (jihad dengan menjaga garis perbatasan denngan musuh) hingga aku meninggal.”
Abu Bakkar ra menjawab: “Lalu siapakah yang adzan untuk kami” Bilal berkata, sementara kedua matanya berlinangan air mata, “Sesungguhnya aku tidak akan adzan untuk siapapun sepeninggal Rasulullah SAW…..” Abu Bakkar ra berkata :” Tapi tetap tinggalah, dan adzanlah untuk kami wahai Bilal “ Bilal ra menjawab, “Jika engkau dulu membebaskan aku agar aku menjadi milikmu, maka terpenuhlah apa yang kamu inginkan, dan jika engkau membebaskan aku karena Allah, maka biarkanlah aku dan apa yang kamu bebaskan karena Allah SWT.” Abu Bakkar ra menjawab:” Bahkan aku membebaskan kamu karena Allah, wahai Bilal”.
Pergilah Bilal kesyam dan tinggal disana sebagai orang yang melakukan Ribath dan seorang mujahid dijalan Allah SWT.
Dia ra berkata tentang dirinya sendiri: “Aku tidak kuasa untuk tinggal di makkah setelah wafatnya Rasulullah SAW.”
Jika dia ra ingin adzan dan samapai pada lafazh “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, air matanya menahan tenggorokannya, dan diapun menangis. Maka diapun tetap tinggal di syam dan pergi bersama mujahidin.
Disaat Amirul Mukminin Umar bin Al Khatab ra berziarah ke syam, kaum muslimin mendesak kepadanya agar meminta Bilal untuk adzan bagi mereka satu shalat saja. Amirul mukminin ra pun memanggil Bilal, sementara saat itu telah masuk waktu shalat, maka Ummar ra mengharap agar Bilal adzan bagi mereka. Bilal pun naik dan adzan….
Maka menangislah para yang dulu pernah menjumpai Rasulullah SAW saat Bilal adzan. Mereka menangis seperti sama sekali belumpernah menangis sebelumnya, dan Ummar ra adalah orang yang peling keras tangisannya.
Menjelang kematiannya ra, istrinya menanngis disebelahnya, maka bilal pun berkata: “Janganlah kamu menanngis, besok kita akan bertemu lagi ‘sang kekasih’ Muhammad dan para sahabatnya.”
Bilal ra meninggal di syam tahun ke-20 H, sebagai seorang murabbith diajalan Allah sebagaimana yang dia inginkan, pada usia 60 tahun.
Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi engkau muadzdzin Rasulullah SAW kami memohon kepada Allah agar kami termasuk orang yang bisa bertemu dengan ‘sang kekasih’ Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ya Allah, pertemukanlah kami bersama dengan mereka semuanya, dan janganlah Engkau haramkan karunia-Mu dari kami wahai Rabb kami, Dzat Yang Maha Prngasih, lagi Dzat Yang maha Menyayangi.
Oleh : Mamduh Farhan Al-Buhari